Pertempuran Transportasi Online Yang Menjadi Merger dan Akuisisi

Posted on 14 Agustus 2019

0


transportasi-online
Uber (a.k.a “Usaha Bersama”) pada awalnya kita tahu saat Susi Susanti dan kawan2 dari tim Bulu tangkis Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) berjuang memperebutkan Piala Uber …..

Ada nuansa kebangsaaan yang sangat kental saat itu … Mirip dengan Rudi Hartono bersama tim Bulu tangkis nasional yang berkali-kali memperjuangkan nama harum bangsa diajang Piala Thomas ……..

Semoga saat kita “mempertahankan” Uber milik Google Ventures dkk, Grab milik Tiger Global Ventures ddk, GO-JEK milik NorthStar dan bisnis dengan Modal ventura global yang lain tahu “harga yang harus dibayar” ……

Begitu pula dengan “pebisnis lama” di Indonesia yang sudah menikmati filosofi “No Money No Honey” ….. Saat ini masyarakat sudah “We knew what you did last summer” dan harus mulai memikirkan memberikan Benefit, bukan hanya mengambil The Profit ……

Kita harus selalu ingat “Our salary paid by our customers” 🙂

Sesuai namanya, tidak heran Uber (“Usaha Bersama”) dicaplok oleh Grab (“Usaha Merebut”)

Saat ini Indonesia jadi ladang pertempuran antara dua aplikator transportasi online dan dua pabrikan sepeda motor terbesar di dunia.

Yamaha Motor Co Ltd. hari ini mengumumkan menyuntik investasi US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun ke Grab, aplikator transportasi online asal Singapura.

Sementara itu jauh hari ke belakang, tepatnya pada Februari 2018, PT Astra International Tbk (ASII) sudah terlebih dahulu mengumumkan berinvestasi US$ 150 juta ke Go-Jek, aplikator asal Indonesia.
Seperti diketahui, Astra adalah induk usaha PT Astra Honda Motor yang merupakan pemegang merek sepeda motor Honda di RI.

Baik Honda dan Yamaha sama-sama menyiratkan berharap penjualan sepeda motor akan meningkat, melalui kerja sama dengan aplikator transportasi online ini.

Yamaha secara terang-terangan mengatakan kerja sama dengan Grab akan mempermudah pembelian sepeda motor bagi mereka yang ingin menjadi mitra driver.

“Memudahkan pembelian motor bagi mereka yang berprofesi atau ingin bekerja sebagai mitra pengemudi layanan ride-hailing,” tulis Yamaha dalam keterangan resmi hari ini, Kamis (13/12/2018).

Yamaha juga menulis, “Kedua perusahaan sepakat untuk menjalin kerja sama strategis untuk berkolaborasi terkait layanan roda dua di Kawasan Asia Tenggara, yang difokuskan di Indonesia.”

Pernyataan itu sekaligus mempertegas bahwa pasar terbesar Yamaha dan Grab adalah di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Utama Astra International Prijono Sugiarto saat mengumumkan kerja sama dengan Go-Jek mengatakan kolaborasi antara kedua perseroan dapat menggarap pasar baru seperti misalnya di Papua.

“Go-Jek punya sekitar 600.000 driver dan 600.000 pengemudi sepeda motor. Astra tiap tahun menjual 4 juta sepeda motor dengan 75% pangsa pasar, mungkin akan garap pasar Papua bareng karena Go-Jek belum masuk Papua,” ujar Direktur Utama Astra Internasional, Prijono Sugiarto, saat mengumumkan kerja sama.

Yamaha dan Honda memang bersaing ketat di pasar sepeda motor RI, meskipun saat ini Honda menguasai hingga 75% pangsa pasar.

Sepanjang Semester I-2018, penjualan Honda mencapai 2,01 juta unit. Sementara itu, Yamaha membukukan 690 ribu unit.

Meskipun demikian pertumbuhan penjualan Yamaha mencapai 2 digit yakni 12,37%, dan Honda 9,66%.