5 Strategi Manajemen Konflik Untuk Peningkatan Dinamika Kelompok, Organisasi Atau Tim

Posted on 20 November 2013

0


Dalam setiap situasi yang melibatkan lebih dari satu orang, konflik bisa timbul dilingkungan Akademis, Bisnis dan Pemerintahan (Academic, Business and Government/ABG). Penyebab konflik adalah adanya berbagai perbedaan filosofis dan tujuan serta ketidak-seimbangan kekuatan. Bila dikelola dengan buruk konflik menghasilkan kerusakan pada kepercayaan dan produktivitas institusi akan hilang. Keberhasilan seringkali bergantung pada kohesi banyak orang, hilangnya kepercayaan dan produktivitas merupakan “sinyal kematian” institusi tersebut. Dengan pemahaman dasar dari strategi manajemen konflik, institusi  dapat lebih baik menangani konflik sebelum meluas  dan tidak  bisa diperbaiki.

Ada 5 Strategi Manajemen Konflik Untuk Peningkatan Dinamika Kelompok, Organisasi Atau Tim  sebagai berikut:

Accommodating (Mengakomodasi) 

Saya kalah, Anda menang

  • Simbol: Beruang Teddy (Teddy Bear) atau Bunglon (Chameleon)
  • Pemikiran Fundamental:
    • Bekerja menuju tujuan bersama lebih penting daripada memprioritaskan salah satu kepentingan,
    • Trauma terhadapi perbedaan dapat merusak hubungan.
  • Filsafat Strategis:
    • Menenangkan orang lain dengan mengecilkan konflik,
    • Melindungi hubungan antara pemangku kepntingan
  • Kapan menggunakan:
    • Bila masalah tidak penting bagi Anda juga untuk orang lain
    • Ketika Anda sadar bahwa Anda adalah salah
    • Bila Anda bersedia untuk membiarkan orang lain belajar dari kesalahannya
    • Bila Anda tahu Anda tidak bisa menang
    • Ketika itu bukan waktu yang tepat untuk Anda dan memilih membangun nama baik untuk masa depan
    • Ketika harmoni sangat penting
    • Ketika memiliki kesamaan adalah kesepakatan terbaik dan lebih penting daripada perbedaan
  • Kekurangan:
    • Ide seseorang tidak mendapatkan perhatian
    • Kredibilitas dan pengaruh bisa hilang

Strategi akomodatif dasarnya  memberikan pihak lawan apa yang diinginkannya. Penggunaan akomodasi sering terjadi ketika salah satu pihak ingin menjaga perdamaian atau merasakan masalahnya kecil. Sebagai contoh, sebuah institusi yang mewajibkan pakaian resmi mungkin membolehkan kebijakan “Pakaian kasual di hari Jumat ”  sebagai sarana  “menjaga perdamaian” dengan berbagai jenjang kepegawaian. Pemimpin menggunakan akomodasi sebagai strategi manajemen konflik yang utama, namun bagaimanapun, hal ini mungkin akan mengembangkan iri hati atau “kebencian”.

Avoiding (Menghindari)

Tidak ada pemenang atau pecundang

  • Simbol: Kura-kura (Turtle)
  • Pemikiran Fundamental: Ini bukan waktu atau tempat yang tepat untuk mengatasi masalah ini
  • Filsafat Strategis: Menghindari konflik dengan menarik diri, menghindar atau menunda
  • Kapan menggunakan:
    • Ketika konflik kecil dan hubungan  antar staf dipertaruhkan
    • Ketika Anda “menghitung sampai sepuluh” (Calm Down) untuk mendinginkan
    • Ketika isu-isu yang lebih penting mendesak diselesaikan dan Anda merasa  tidak punya waktu untuk berurusan dengan hal ini
    • Bila Anda tidak memiliki kekuatan dan Anda melihat tidak ada kesempatan untuk mendapatkan perhatian
    • Bila Anda terlalu terlibat secara emosional dan menganggap orang lain di sekitar Anda dapat lebih berhasil memecahkan konflik
    • Bila diperlukan informasi lebih banyak
  • Kekurangan:
    • Keputusan penting  dibuat secara “default” (standar)
    • Menunda-nunda  dapat membuat keadaan menjadi lebih buruk

Strategi menghindari berusaha untuk menunda konflik tanpa batas waktu. Dengan menunda atau mengabaikan konflik, “avoider” (Penghindar) berharap masalah dapat diselesaikan sendiri tanpa konfrontasi. Mereka yang aktif menghindari konflik sering memiliki harga diri rendah atau memegang posisi  rendah. Dalam beberapa keadaan, menghindar dapat berfungsi sebagai strategi manajemen konflik yang menguntungkan, seperti setelah pemecatan seorang karyawan yang populer tetapi tidak produktif. Salah satu caranya mempekerjakan pengganti yang lebih produktif untuk posisi tersebut agar menenangkan banyak konflik.

Collaborating  (Berkolaborasi)

Saya menang, Anda menang

  • Simbol:  Burung hantu (Owl)  atau Lumba-lumba (Dolphin)
  • Pemikiran Fundamental :
    • Teamwork dan kerjasama setiap orang untuk mencapai tujuan mereka,
    • Juga menjaga hubungan diantara mereka dengan baik
  • Filosofi Strategis: Proses bekerja melalui perbedaan akan mengarah pada solusi kreatif yang akan memuaskan kedua belah pihak
  • Kapan menggunakannya:
    • Ketika ada tingkat kepercayaan yang tinggi
    • Bila Anda tidak ingin memiliki tanggung jawab penuh (Sharing Responsibilities)
    • Bila Anda ingin orang lain juga memiliki “kepemilikan” solusi
    • Ketika orang-orang yang terlibat bersedia untuk mengubah pemikiran mereka karena ditemukan opsi baru yang lebih baik
    • Bila Anda bersama tim perlu untuk bekerja melalui “kompetisi”
  • Kekurangan:
    • Proses ini membutuhkan banyak waktu dan energi
    • Beberapa fihak mungkin mengambil keuntungan dari kepercayaan dan keterbukaan orang lain

Kolaborasi bekerja dengan mengintegrasikan ide-ide yang ditetapkan oleh beberapa orang. Tujuannya adalah untuk menemukan solusi kreatif yang diterima oleh semua orang. Kolaborasi, meskipun berguna, memerlukan komitmen waktu yang signifikan lama. Sebagai contoh, sebuah pemimpin institusi atau pemilik bisnis harus bekerja sama dengan manajemen lain untuk menetapkan kebijakan, tetapi kolaborasi pengambilan keputusan hal kecil  lebih baik digunakan dengan cara mandiri.

Compromising (Berkompromi)

Anda Sopan, Saya  Segan :-)

  • Simbol: Rubah (Fox) atau Bunglon (Chameleon)
  • Pemikiran Fundamental: Memenangkan hal yang besar sementara kehilangan sedikit sesuatu adalah tidak menjadi masalah
  • Filsafat Strategis:
    • Kedua fihak ditempatkan di tengah  upaya untuk melayani “kepentingan umum”
    • Sambil memastikan setiap orang dapat mempertahankan sesuatu sesuai posisi semula
  • Kapan menggunakan:
    • Ketika orang-orang dari status yang sama  berkomitmen untuk satu tujuan
    • Ketika waktu  bisa dihemat dengan mencapai jalan tengah pada  masalah yang kompleks
    • Ketika tujuannya cukup penting
  • Kekurangan:
    • Nilai-nilai penting dan tujuan jangka panjang (strategis) dapat “tergelincir” dalam proses (takstis) yang terjadi
    • Mungkin tidak bekerja jika tuntutan awal terlalu besar
    • Dapat menelurkan sinisme, terutama jika tidak ada komitmen untuk menghormati solusi kompromi

Strategi kompromi biasanya  agar kedua sisi konflik “menyerah” dalam rangka untuk membangun solusi yang diterima, walau tidak menyenangkan. Strategi ini  paling sering dalam konflik di mana pihak yang berkonflik kurang lebih setara. Pemimpin institusi atau pemilik bisnis sering menggunakan kompromi selama negosiasi persetujuan atau kontrak  ketika masing-masing pihak bertahan agar tidak kehilangan sesuatu yang berharga, misalnya layanan yang diperlukan  agar tetap berjalan.

Competing (Bersaing)

Saya menang, Anda  kalah

  • Simbol:  Hiu (Shark) atau  Singa (Lion)
  • Pemikiran Fundamental:  “Memenangkan” konflik dengan persaingan
  • Filsafat Strategis: Ketika tujuan sangat penting, seseorang  kadang-kadang harus menggunakan kekuatan untuk menang
  • Kapan menggunakan:
    • Bila Anda tahu Anda benar
    • Ketika waktunya singkat dan keputusan yang cepat diperlukan
    • Ketika ada “kekuatan” sedang mencoba untuk “menggilas” dan Anda tidak ingin “dikalahkan” olehnya
    • Bila Anda perlu  mempertahankan hak-hak Anda
  • Kekurangan:
    • Dapat meningkatkan konflik
    • Pecundang (fihak yang kalah) mungkin akan membalas di lain kesempatan

Kompetisi beroperasi seperti zero-sum game, di mana satu sisi menang dan yang lain kalah (1-1=0). Kepribadian yang sangat tegas sering memilih kompetisi sebagai strategi manajemen konflik. Strategi bersaing  ini baik dalam sejumlah konflik, seperti situasi darurat. Secara umum, pemimpin institusi atau pemilik bisnis memanfaatkan strategi bersaing sebagai “cadangan” untuk situasi krisis dan keputusan yang menyakitkan.