“Angkot Leadership” @RidwanKamil: Harapan Bandung Untuk Suatu Perubahan

Posted on 20 September 2013

2


Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi.

Terminologi kepemimpinan lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). ABRAHAM MASLOW mengidentifikasi adanya 5 tingkat kebutuhan manusia :

1). kebutuhan biologis,
2). kebutuhan akan rasa aman,
3). kebutuhan untuk diterima dan dihormati orang lain,
4). kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik, dan
5). kebutuhan untuk menunjukkan prestasi yang baik.

Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikatakan Plato dalam filsafat negara, lahir istilah kontrak sosial dan pemimpin atau kepemimpinan.

Angkutan Kota (Angkot)

Angkutan kota adalah sebuah moda transportasi perkotaan yang merujuk kepada kendaraan umum dengan rute yang sudah ditentukan. Tidak seperti bus yang mempunyai halte sebagai tempat perhentian yang sudah ditentukan, angkutan kota dapat berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang di mana saja.

Angkutan kota mulai diperkenalkan di Jakarta pada akhir tahun 1970-an dengan nama “mikrolet” untuk menggantikan oplet yang sudah dianggap terlalu tua, terseok-seok jalannya, dan sering mengalami gangguan mesin, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. Nama “mikrolet” dipilih sebagai singkatan gabungan dari kata “mikro” (=kecil) dan “oplet”. Tetapi ada juga yang menyebut “angkot” untuk di beberapa daerah.

Tarif yang dibebankan kepada penumpang bervariasi tergantung jauhnya jarak yang ditempuh. Umumnya sebuah angkutan kota diisi oleh kurang lebih 10 orang penumpang, tetapi tidak jarang penumpangnya hingga lebih dari 10 orang. Perilaku sopir angkutan kota yang sering berhenti mendadak dan di sembarang tempat sering dihubung-hubungkan dengan penyebab kemacetan. Terkadang juga sebuah angkutan kota selalu menepi dengan waktu yang lama untuk menunggu penumpang. Jalur operasi suatu angkutan kota dapat diketahui melalui warna atau kode berupa huruf atau angka yang ada di badannya.

Angkutan kota atau angkot di Indonesia memiliki berbagai macam istilah tergantung daerah masing-masing. Di Jakarta angkutan kota dikenal dengan istilah mikrolet. Di Surabaya angkutan kota lebih dikenal dengan istilah bemo. Di Kota Makassar dikenal dengan istilah “pete-pete”. Sementara, di Di Bandung angkutan kota lebih dikenal dengan sebutan angkot.Medan dikenal sebutan “sudako”. Beberapa kota lain seperti Samarinda dan Bengkulu dikenal istilah “taksi”.

Ridwan Kamil

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil (RK), adalah pria kelahiran 4 Oktober 1971 yang berprofesi sebagai ahli tata kota, arsitektur, sekaligus dosen di Institute Teknologi Bandung (ITB).

RK atau akrab juga disapa Kang Emil ini memiliki dua orang anak bernama Laetatia dan Emmiril yang lahir dari rahim istrinya yang bernama Atalia Praratya.

Secara pendidikan, RK bisa dibilang orang yang pintar. Hal itu dibuktikan dengan jenjang pendidikannya yang dimulai dari SDN Banjarsari, SMPN 2 Bandung, SMAN 3 Bandung, ITB (Teknik Arsitektur-S1), University of California (Master of Urban Design-S2), yang kesemuanya adalah sekolah dan perguruan tinggi favorit.

Dalam urusan karir, RK telah melahirkan beberapa karya monumen dan bangunan di dalam maupun di luar negeri yang sudah tidak usah diragukan lagi.

Mulai dari Masjid Merapi yang semua bahanya terbuat dari batako yang berasal dari abu letusan Gunung Merapi, Museum Tsunami Aceh, Rumah Gempa di Padang, sekolah anti gempa di Pangalengan, kawasan elit di Kuningan, Jakarta (Kuningan City), Superblok di China, rancanangan pembangunan di Syria, dan lain-lain.

Tidak sampai di situ, dengan karyanya yang mendunia, RK pun diganjar dengan beberapa penghargaan seperti, Urban Ladership Award dari Universitas Pensylvania (Amerika Serikat), Winner International Young Design Entrepreneur of the Year dari British Counchil Indonesia, dua penghargaan dari Indonesia Green Award dengan kategori penghargaan penginspirasi bumi (Penggagas Indonesia Bekerbun) dan penghargaan penginspirasi bumi (Green Building Rasuna Epicentrum), dan penghargaan lain-lain dari berbagai instansi dalam maupun luar negeri.

Untuk bisa lebih dekat dengan RK, masyarakat juga bisa memfolow twitternya di @ridwankamil. Tak jarang, twit-twit yang masuk akan langsung dibalas oleh pria berkacamata tersebut.

“Angkot Leadership”

Apa yang dilakukan Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung 2013-12018, dengan gaya kepemimpinan “Angkot Leadership” adalah suatu terobosan. istilah ini saya “lahirkan” karena pada tanggal 20 September 2013, Ridwan Kamil mengendarai angkot Dago-Kalapa. Wali Kota Bandung yang baru dilantik itu menggantikan posisi sopir angkot sebelumnya, Seno.

Pada peringatan ‘Angkot Day’ itu, Ridwan Kamil ‘narik’ dari Dago ke arah Kebonkalapa. Seperti sopir angkot lainnya, Ridwan Kamil kerap menaik-turunkan penumpang di sepanjang jalan yang dilaluinya. Di sela-sela mengendarai angkot, Ridwan Kamil menyempatkan diri berbincang dengan penumpang seputar pelayanan angkutan umum di Kota Bandung.

Angkot Day adalah respons kelompok Riset Indie terhadap permasalahan urban mobility kota Bandung. Proyek ini mencoba untuk meneliti faktor-faktor penyebab kemacetan kota Bandung khususnya transportasi publiknya melalui pendekatan sosial-ekonomi.

Angkot Day bertujuan untuk mengajak masyarakat umum, terutama kelas masyarakat yang berpendidikan melihat dan berempati terhadap masyarakat di industri angkot. Tujuannya agar mereka tergerak ikut berkontribusi positif memperbaiki situasi demi kepentingan bersama.

Selan itu, Angkot Day juga bertujuan untuk menularkan ide. Ketika pengelolaan angkutan kota dijalankan dengan baik, ternyata mampu menjadi moda transportasi umum yang aman, nyaman, tertib serta bisa menjadi solusi permasalahan transportasi kota Bandung

Jika ditilik, “Angkot Leadership” (Kepemimpinan Bergaya Angkot) ini menggunakan prinsip yang menurut STEPHEN R. COVEY disebut ” Principle Centered Leadership”  yang terdiri dari :

  1. Belajar terus menerus: mereka membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan;
  2. Berorientasi pada pelayanan: mereka melihat hidup sebagai suatu misi dan tidak hanya sebagai suatu karir;
  3. Memancarkan energi positif, mereka optimistis, positif, dan modern;
  4. Mempercayai orang lain: mereka tidak tidak bereaksi berlebihan pada perilaku negatif, kritik dan kelemahan;
  5. Hidup seimbang: mereka memperhatian keseimbangan jasmani dan rohani, antara yang tradisionil dan yang modern;
  6. Melihat hidup sebagai petualangan: mereka menghargai hidup di luar kenyamanan;
  7. Sinergistik: mereka memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan orang lain dan mampu membina energi-energi yang dimiliki organisasi; dan
  8. Melaksanakan pembaharuan diri: mereka memiliki karakter yang kuat dan sehat, serta berdisiplin tinggi.

Atas dasar prinsip-prinsip itulah maka kepemimpinan menuntut hal-hal sebagai berikut :

  1. Kelompok bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang kelompok;
  2. Masing-masing anggota kelompok memiliki kualitas dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kontribusi pada berfungsinya mekanisme kelompok secara efektif.

Harapan Bandung Untuk Suatu Perubahan

Dikutip dari Detikcom, Walikota Ridwan Kamil dan wakilnya Oded M Danial mengemban tugas baru sebagai wali kota dan wakil wali Kota Bandung. Kendali pemerintahan lima tahun ke depan berada di tangan mereka.Apa saja harapan warga Bandung terhadap Ridwan-Oded?

Sekelumit permasalahan di kota berpenduduk dua juta lebih ini, masih menjadi sorotan. Sebut saja soal infrastruktur, layanan publik, pendidikan, dan lingkungan. Perubahan menuju lebih baik, tentunya diharapkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Perpaduan Ridwan sebagai akademisi dan intelektual muda, serta Oded sebagai pengusaha dan politisi, diimpikaan bisa mengatasi permasalahan tersebut.

“Birokrasinya jangan bertele-tele, terutama soal layanan publik. Contoh, kalau bikin kartu keluarga (KK) jangan pakai lama. Selain itu infrastruktur. Warga ingin jalanan di Bandung itu nyaman, enggak berlubang atau rusak. Perbaiki lampu penerangan jalan umum yang saat ini banyak yang mati,” kata warga Ujungberung, Rahmat Budi (34), saat berbincang dengan detikbandung, Selasa (17/9/2013).

Ridwan dan Oded sudah dilantik pada Senin kemarin. Rahmat berharap keduanya bisa menjalankan tugas secara baik dan mewujudkan janji kampanyenya. “Jangan terbebani dengan seratus hari kerja. Terpenting bekerja maksimal dan menepati janji-janji perubahan,” ucap pegawai swasta ini.

Salah satu pebisnis, Yudi Irawan (35), mendukung program ‘Bandung Juara’ yang digulirkan Ridwan dan Oded. “Sektor bisnis industri kreatif harus diperhatikan pemimpin baru Kota Bandung saat ini. Pa Ridwan selama ini ‘kan mengikuti perkembangan ragam industri kreatif yang sudah mengharumkan nama Bandung,” jelas pria yang berdomisili di kawasan Buahbatu ini.

Kalangan masyarakat bawah punya impian tersendiri. “Pendidikan gratis harus tetap ada. Jangan terjadi perbedaan siswa kaya dan siswa miskin,” jelas juru parkir di Jalan Ahmad Yani, Hendra (38).

Banyak pekerjaan rumah yang perlu dibereskan Ridwan dan Oded. Segudang tugas pun sudah di depan mata. Masyarakat sudah memilih dan memercayakan sepenuhnya kepada pemimpin tersebut. Impian ‘Bandung Juara’ diharapkan bukan sebatas janji sewaktu koar-koar dalam kampanye Pilwalkot lalu.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Y8a8eACD9wo]