Kepemimpinan: Antara Teori dan Model Yang Diterapkan (Bagian-2)

Posted on 10 September 2013

2


Lanjutan dari “Kepemimpinan: Antara Teori dan Model Yang Diterapkan (Bagian-1)“:

MODEL KEPEMIMPINAN:

Perkembangan teori-teori di atas sesungguhnya adalah sebuah proses pencarian formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Atau dengan kata lain sebuah upaya pencarian sistem kepemimpinan yang efektif dan strategis.

Kepemimpinan harus mempunyai prinsip yang menurut STEPHEN R. COVEY dalam Principle Centered Leadership terdiri dari :

  1. Belajar terus menerus, mereka membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan;
  2. Berorientasi pada pelayanan, mereka melihat hidup sebagai suatu misi dan tidak hanya sebagai suatu karir;
  3. Memancarkan energi positif, mereka optimistis, positif, dan modern;
  4. Mempercayai orang lain, mereka tidak tidak berekasi berlebihan pada perilaku negatif, kritik dan kelemahan;
  5. Hidup seimbang, mereka memperhatian keseimbangan jasmani dan rohani, antara yang tradisionil dan yang modern;
  6. Melihat hidup sebagai petualangan, mereka menghargai hidup di luar kenyamanan;
  7. Sinergistik, mereka memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan orang lain dan mampu membina energi-energi yang dimiliki organisasi; dan
  8. Melaksanakan pembaharuan diri, mereka memiliki karakter yang kuat dan sehat, serta berdisiplin tinggi.

Atas dasar prinsip-prinsip itulah maka kepemimpinan menuntut hal-hal sebagai berikut :

  1. Kelompok bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang kelompok;
  2. Masing-masing anggota kelompok memiliki kualitas dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kontribusi pada berfungsinya mekanisme kelompok secara efektif.

Prinsip kepemimpinan adalah asas yang mengandung kebenaran dan pantas untuk selalu digunakan oleh setiap pemimpin. Prinsip-prinsip kepemimpinan meliputi :

  1. Mahir dalam soal-soal teknis dan taktis.
  2. Mengetahui diri-sendiri, mencari dan selalu berusaha memperbaiki diri.
  3. Memiliki keyakinan bahwa tugas-tugas dimengerti, diawasi dan dijalani.
  4. Mengenal anggota-anggota bawahan serta memelihara kesejahteraannya.
  5. Memberi teladan dan contoh yang baik.
  6. Menumbuhkan rasa tanggung jawab di kalangan anggota.
  7. Melatih anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak.
  8. Membuat keputusan-keputusan yang sehat, tepat pada waktunya.
  9. Memberi tugas dan pekerjaan kepada bawahan sesuai dengan kemampuannya.
  10. Bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.

Setiap permasalahan kepemimpinan selalu meliputi 3 (tiga) unsur yang terdiri dari :

  1. Unsur manusia : yaitu manusia yang melaksanakan kegiatan memimpin atas sejumlah manusia lain atau manusia yang memimpin dan manusia yang dipimpin.
  2. Unsur sarana: yaitu Prinsip dan Teknik Kepemimpinan yang digunakan dalam pelaksanaan Kepemimpinan, termasuk bakat dan pengetahuan serta pengalaman pemimpin tersebut.
  3. Unsur tujuan: yaitu tujuan bersama apa yang ingin dan akan diwujudkan untuk kepentingan bersama.

Secara normatif, keberhasilan kepemimpinan akan sangat tergantung kepada tiga unsur tersebut yang meliputi : syarat, watak, ciri, gaya, sifat, prinsip, teknik, asas dan jenis kepemimpinan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kepemimpinan.

Efektivitas kepemimpinan dipengaruhi juga oleh metode mengarahkan bawahan yang digunakan oleh seorang pemimpin. Metode yang digunakan untuk mengarahkan bawahan agar mereka melakukan tugasnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab senantiasa berbeda pada setiap situasi dan kondisi. Namun demikian terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan, diantaranya :

  1. Metode persuasif (membujuk). Dengan cara penyadaran atau pembujukan untuk mempengaruhi atau membawa ke arah kesadaran untuk melakukan kewajibannya tanpa disadarinya.
  2. Metode impilikatif (melibatkan). Dengan cara dialog dalam rangka membawa kepada sasaran yang diinginkan.
  3. Metode sugestif (menganjurkan). Cara mempengaruhi bawahan untuk melakukan sesuatu dengan memberikan saran-saran dan harapan-harapan.
  4. Metode diskusi. Dengan cara dialog antara pemimpin dengan bawahan dalam menentukan sasaran/tujuan organisasi.
  5. Advise (nasehat). Dengan cara memberikan nasehat kepada bawahan terhadap tujuan yang akan dicapai organisasi.
  6. Inducement (paksaan). Dengan cara memberikan dorongan atau penekanan kepada bawahan agar mau melaksanakan perintah atau harapan pemimpin.
  7. Komando. Dengan cara yang lebih keras melalui perintah atau paksaan untuk melaksanakan perintah atau tugas tanpa ada alternatif lain.

Situasi dan kondisi lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan kepemimpinan, oleh karenanya pemimpin wajib berusaha menguasai keadaan lingkungan yang dihadapi menjadi suatu kondisi yang menguntungkan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan upaya/langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Selalu mengadakan komunikasi.
  2. Memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
  3. Mengetahui kebutuhan materil dan spirituil lingkungan.
  4. Memiliki kemampuan inovasi yang menguntungkan lingkungan.
  5. Memberikan pertolongan tanpa pamrih dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan dan norma yang baik.

Keberhasilan atau kegagalan dari hasil kepemimpinan seseorang dapat diukur atau ditandai oleh empat hal, yaitu : moril, disiplin, jiwa korsa (esprit de corps), dan kecakapan.

  1. Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi moril adalah :
    • kepemimpinan atasan.
    • kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran.
    • penghargaan atas penyelesaian tugas.
    • solidaritas dan kebanggaan organisasi.
    • pendidikan dan latihan.
    • kesejahteraan dan rekreasi.
    • kesempatan untuk mengembangkan bakat.
    • struktur organisasi.
    • pengaruh dari luar.
  2. Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku. Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin :
    • Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas.
    • Menentukan tingkat dan ukuran kemampuan.
    • Bersikap loyal.
    • Menciptakan kegiatan atas dasar persaingan yang sehat.
    • Menyelenggarakan komunikasi secara terbuka.
    • Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi.
    • Menganalisa peraturan dan kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah tidak sesuai lagi.
    • Melaksanakan reward and punishment.
  3. Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi. Ciri jiwa korsa yang baik adalah :
    • Antusiasme dan rasa kebanggaan segenap anggota terhadap organisasinya.
    • Reputasi yang baik terhadap organisasi lain.
    • Semangat persaingan secara sehat dan bermutu.
    • Adanya kemauan anggota untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan.
    • Kesediaan anggota untuk saling menolong.
  4. Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas.

Menurut WJ. REDDIN. Setiap kepemimpinan memiliki orientasinya sendiri-sendiri. Ia mengidentiifikasi adanya tiga orientasi kepemimpinan:

  1. Kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (task oriented).
  2. Kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan kerjasama (relationship oriented).
  3. Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil (effectiveness oriented).

Dari tiga orientasi tersebut Reddin mengklasifikasikan delapan gaya kepemimpinan, yaitu:

  1. The Deserter, gaya kepemimpinan yang hanya sedikit memiliki ketiga orientasi tadi atau bahkan tidak ada sama sekali;
  2. The Bureaucrat, gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada hasil dengan orientasi tugas yang rendah;
  3. The Missionary, gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada membangun jalinan kerja sama dengan orientasi tugas yang rendah;
  4. The Development, gaya kepemimpinan yang beroreintasi pada hasil dan jalinan kerja sama yang tinggi tetapi orientasi tugasnya rendah;
  5. The Autocrat, gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada tugas, sementara orientasi yang lainnya rendah;
  6. The Benevolent Autocrat, gaya kepemimpinan yang berorrientasi pada hasil dan tugas yang tinggi, sedangkan orientasi jalinan kerja samanya rendah;
  7. The Compromiser, gaya kepemimpinan yang kurang berorientasi pada hasil tetapi mempunyai orientasi tugas dan jalinan kerja sama yang memadai;
  8. The Executive, gaya kepemimpinan yang mempunyai ketiga orientasi.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=PhRwRhyovWY]