Strategi Manajemen: Carilah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina

Posted on 22 Agustus 2013

2


Cina diam2 sudah melakukan “Quantum Leap” dengan melakukan “Rekayasa Kebudayaan” (Culture Re-Engineering) yang bisa menggantikan sosialis-komunis menjadi hal yang tadinya paradox menjadi kenyataan yaitu solisialis-kapitalis.

Saya masih ingat, 20 tahun yang lalu mereka hanya bisa memaksa produk perusahaan kami dari US mengganti warnanya dari biru menjadi oranye…..Namun sekrang mereka telah berhasil mengganti isi dan nyawa seluruh produk tersebut menjadi “Made In China” dari sisi People, Process and Technology….

Dan sejak mereka bergabung dengan WTO, mereka yang sebelumnya memakai cara “Copy Paste” (Plagiat) sudah meloncat pada metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), cara hampir sama yang dilakukan oleh Jepang untuk mengalahkan industri Amerika…..

China kemungkinan akan menjadi ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2017, menyalip kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kata satu laporan PricewaterhouseCoopers (PWC), pada Ahad.Produk domestik bruto China diukur pada paritas daya beli (PPP) dasar akan hampir mencapai 20 triliun dolar AS, melebihi angka di pihak AS.

Demikian laporan PWC. Pada tahun 2030, tiga negara ekonomi terbesar secara PPP akan tercatat China dengan 30,6 triliun dolar AS, Amerika Serikat 23,4 trilyun dolar AS, dan India dengan 13,7 triliun dolar AS.

Kemajuan China merupakan hasil dari perjuangan panjang, tekun, dan pemerintahan yang tegas. Kemajuan ini merupakan yang tercepat dalam sejarah peradaban manusia. Rakyat China terdorong untuk bekerja keras karena tekanan untuk dapat bertahan hidup.

Sebaliknya Indonesia sudah sejak lama dimanjakan dengan sumber daya alam yang melimpah dan tanah yang subur. Kini kondisi telah berubah dan masyarakat harus mulai berpikir tentang perubahan menuju kemajuan.

Indonesia tidak perlu meniru total pola pembangunan China untuk kemajuan. ”Belajar dari pihak yang berhasil merupakan keharusan, tetapi tidak harus meniru persis karena keadaan sosial dan budaya serta sistem politik yang berbeda.

Bagi Indonesia, untuk bisa beranjak maju, stabilitas harus menjadi perhatian. Sikap ulet, rajin, dan keberadaan sikap nasionalisme demi kemajuan bersama adalah hal yang patut kita tiru dari China. Masyarakat China tidak mudah terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan.

Di China pada tahun 1990-an tingkat korupsi lebih parah daripada di Indonesia. Pada saat itu terdapat seorang kepala pemerintahan yang bernama Zhu Rong Ji. Zhu mengatakan, ’Sediakan kepada saya 100 peti mati, 99 peti mati untuk para koruptor yang saya tangkap dan satu peti mati untuk saya apabila saya tertangkap melakukan korupsi.

Budaya korupsi, memang tidak akan bisa diberantas dalam waktu sekejap. Meski demikian, aturan untuk mencegah korupsi yang sudah ada seharusnya ditegakkan dengan tegas.

Sosok seperti Zhu Rong Ji saat ini kenyataannya belum muncul di Indonesia. Namun, dengan ketegasan hukum, sosok semacam itu bisa muncul dalam pemerintahan Indonesia di kemudian hari.

Catatan:

Sebagian dikutip dari sini