Kepemimpinan Manajemen Berbasis Spiritual

Posted on 14 Agustus 2013

0


Dikutip dari esq-news.com,  Seorang pengusaha sukses abad ke-6 bernama Muhammad meninggalkan bisnisnya untuk mencari esensi manajemen yang sebenarnya. Ketika beliau dipertemukan dengan Jibril yang membawa pesan IQRA (Al-Alaq 1-5), beliau menyadari bahwa inilah awal revolusi berpikirnya tentang manajemen yang hakiki. Lingkup pemikirannya kini tidak lagi terpusat kepada dalil-dalil logika semata tetapi telah menerobos ke suatu pemikiran beresensi hati nurani yang mengedepankan tuntunan/petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.

Empat belas abad kemudian sekian banyak ahli manajemen kelas dunia mempublikasikan sekian banyak teori tentang manajemen berbasis spiritual yang bersumber pada kajian olah pikir filosofis mereka yang diperkuat dengan fakta ratusan orang sukses yang menganut paham mereka. Pelatihan leadership berbasis manajemen spiritual kemudian menjadi suatu model yang menawarkan solusi multidimensi terhadap berbagai persoalan manajemen. Namun para peserta kemudian menyadari bahwa basahnya siraman pelatihan tersebut bersifat sesaat dan selanjutnya malah membuat kering pola pikir mereka dibandingkan dengan sebelum mengikuti pelatihan tersebut. Apakah benar bahwa pelatihan itu berbasis spiritual atau hanya spiritual semu?

Hal ini dibahas pada “Journal of Human Values” oleh Peter Pruzan, Dr. Polit. & Ph.D., Professor Emeritus, Department of Management, Politics and Philosophy, Copenhagen Business School, Denmark sebagai berikut:

Sebuah paradigma kepemimpinan global baru secara bertahap muncul, yaitu kepemimpinan berbasis spiritual. Kontekstualisasi perkembangan ini sejalan dengan kerangka rasionalitas ilmiah dan ekonomi. Pendekatan kepemimpinan spiritual digambarkan sebagai pengintegrasian perspektif batin seorang pemimpin pada tujuan hidup dan kepemimpinan sehingga perspektif batin ini merupakan dasar bagi keputusan dan tindakan dalam dunia akademik, bisnis dan pemerintahan.

Penelitian empiris menunjukkan, berdasarkan wawancara dengan 31 pemimpin top dari 15 negara di enam benua. Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin dapat memperoleh kebahagiaan, rasa hormat, ketenangan pikiran dan keberhasilan, serta pada saat yang sama melayani kebutuhan semua yang terkena dampak kepemimpinan ketika mereka memimpin dengan dasar spiritual. Hal ini juga menunjukkan spiritualitas  dapat berfungsi sebagai dasar untuk kepemimpinan yang mempertimbangkan etika, tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya sebagai instrumen untuk melindungi reputasi perusahaan dan pendapatan tetapi sebagai prinsip-prinsip dan nilai-nilai mereka sendiri.

Pada buku “Leading with Wisdom: Spiritual-based Leadership in Business” karangan Peter Pruzan dan Kirsten Pruzan Mikkelsen (bersama dengan Debra dan William Miller), dikatakan bahwa perspektif kepemimpinan spiritual belum “mainstream”. Keserakahan, prestise dan kekuasaan tampaknya masih menjadi kekuatan motivasi utama yang lebih besar bagi para pemimpin perusahaan di dunia. Meskipun 25 tahun kita sudah globalisasi, kemiskinan masih amat nyata dimana-mana di banyak bagian dunia. Sebaliknya yang sangat mencolok, paket kompensasi para pemimpin puncak dalam bisnis, khususnya di Barat, telah meroket, mencapai tingkat yang akan dianggap mustahil satu dekade lalu. Yang jelas dibutuhkan perubahan dalam pola pikir, nilai-nilai dan prinsip-prinsip kepemimpinan kita, serta orang-orang yang membiayai perusahaan, juga orang-orang yang mendidik dan mentor kepemimpinan untuk masa depan kita. Minimal, apa yang dibutuhkan adalah perluasan dari konsep ‘sukses’ sehingga melampaui fokus yang hanya berlaku pada keuntungan finansial jangka pendek.