Seminar “Ecotourism based on Environment, Education and Creative Industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya

Posted on 25 Maret 2012

0


 

Pada tanggal 24 Maret 2012 saya menghadiri seminar “Ecotourism based on Environment, Education and  Creative industry” di Hotel Mangkubumi Indah Tasikmalaya. Ekowisata (Ecotourism) merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Tidak ada definisi yang diterima secara universal tentang ekowisata. Evans-Pritchard dan Salazar [1992, dikutip dalam Mowforth dan Munt, 1998, p.104] mencatat bahwa “Kita  tidak mengetahui tepatnya apakah istilah ‘ekowisata’ dimaksudkan sebagai konsep murni atau sebagai istilah yang secara umum digunakan “. Secara teoritis, ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu jenis pariwisata di mana lingkungan, masyarakat lokal dan pengunjung semuanya memperoleh manfaat . Dalam prakteknya, istilah ‘ekowisata’ sering digunakan oleh operator tur sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan segala bentuk pariwisata yang berhubungan dengan wistata alam. Sebagai Wight [1994, hal.39] catatan:

“Tampaknya ada dua pandangan yang berlaku pada ekowisata: satu fihak memandang bahwa kepentingan umum pada lingkungan dapat digunakan untuk memasarkan produk, yang lain melihat bahwa ketertarikan yang sama dapat digunakan untuk menyelamatkan sumber daya di mana produk ini didasarkan. Pandangan ini tidak perlu saling berhubungan”.

Berbagai konferensi telah diadakan membahas ekowisata dan pariwisata yang bertanggung jawab untuk mempromosikan pandangan di atas. Pada Konferensi Dunia Tahun 1995 tentang Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan di Lanzarote, disepakati bahwa:

“Pariwisata akan berkelanjutan ketika pembangunan dan operasinya  memasukkan partisipasi penduduk lokal, perlindungan lingkungan, hasil ekonomi yang adil untuk industri dan masyarakat sekitarnya, serta  memuaskan dan saling menghargai semua pihak yang terlibat” [Jafari, 1996 , p.959]. Dari konferensi tersebut dan literatur tentang ekowisata telah muncul prinsip pariwisata yang harus dipatuhi jika ingin didefinisikan sebagai ekowisata. 

Salah satu pembicara adalah Jalu Sugih Cahyanto yang membuat beragam kerajinan kap lampu, miniatur sepeda, vas bunga, dan baki lamaran yang dipamerkan Kreativitas Seni Saung EGP. Jika dilihat sekilas, mungkin tak ada yang menyangka bahwa beragam produk berbahan dasar sampah. Ya, memang benar-benar hanya sampah kertas koran, kertas majalah, serta jenis kertas sisa lainnya. Namun, sampah-sampah kertas itu di tangan Jalu, sang pemilik ide kreatif di Saung EGP, dapat menjadi produk yang indah dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Jalu, yang berlatar belakang pendidikan di bidang ekonomi, memang suka usil mengutak-atik benda-benda di sekitarnya. Produk limbah kertas yang dijual dengan kisaran harga Rp 30 ribu hingga Rp 200.000 itu pun ternyata buah dari keusilan Jalu.

“Inspirasinya karena memang saya suka jail dan usil. Saya sering iseng-iseng membuat kerajinan dan ternyata kertas itu sangat mudah diutak-atik sehingga akhirnya menjadi barang kerajinan seperti ini,” katanya.

Pemilihan sampah kertas, lanjut Jalu, merupakan satu bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan. Selain sampah kertas terbilang mudah dijumpai, ternyata kepekaan Jalu terhadap isu pemanasan global juga menjadi alasan yang mendasari pemilihan kertas sebagai bahan dasar kerajinannya.

“Dapat ide buat kerajinan dari kertas karena kebetulan di sekitar saya banyak kertas. Dulu pernah bikin kerajinan pakai plastik, tapi terbentur masalah bahan. Kertaskan ada di mana-mana, jadi mudah mendapatkannya. Selain itu, saya juga punya misi cinta lingkungan. Kertas itu limbah yang ramah lingkungan. Terkait isuglobal warming, kita juga ingin bersahabat dengan alam. Itulah sebabnya saya memilih bahan yang ramah lingkungan,” ujar Jalu.

Setelah selesai mengikuti “Tasikmalaya Ecotourism Seminar” ini ada berita menggembirakan dari Ketua Kadin Tasikmalaya Wahyu Tri Rahmadi bahwa @pojokpendidikan (www.pojokpendidikan.com) akan dilibatkan untuk berpatisipasi dalam perencanaan dan eksekusi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah TK. SD, SMP, SMU dan SMK di Tasikmalaya.